PERJALANAN RAMADHAN YANG AMAZING
Pagi itu, ramadhan 2016 hari ke-11, tepatnya tanggal 16 Juni 2016, saya mendapat tugas ke luar kota, tepatnya ke Mamuju, Sulawesi Barat. Terasa mendadak karena surat dari provinsi juga baru diterima paginya, saat seorang teman menyerahkan surat kepada pimpinan.
Uniknya, bagi saya, ketika nama saya disebut untuk menjadi perwakilan menghadiri acara itu. Wow, surprise banget.
Akhirnya atas petunjuk ibu pimpinan, saya mengerjakan semua step-step persiapan yang harus saya bawa dan lain-lain.
Dengan sedikit tergesa dan hati berdoa semoga lancar, saya pun mencoba maksimal untuk melaksanakan amanah ini. Ternyata, yang jadi kejutan kedua, saya pun diarahkan untuk berangkat bersama dengan perwakilan dari kantor pariwisata, yang notabene adalah kepala dinas. Padahal rencana awal saya sempat terfikir untuk naik Bus umum DAMRI. Itung-itung pengalaman pertama naik bis umum ke arah Barat kota. Setelah janjian via telpon, disepakati saya dijemput di rumah, tepatnya di kos-kosan saya. Hmm, pimpinan ini sangat baik dan low profile. Mengingat saya hanyalah seorang staf di kantor hehe...but anyway thanks a lot.
Pukul 02.30 kami mulai perjalanan. Dari catatan jarak yang harus ditempuh sekitar 350 km, seperti Malang-Banyuwangi. Bedanya, jalan ke arah Mamuju sangat berkelok-kelok. Semoga saya tidak mabuk perjalanan hehe.. Setelah 2,5 jam berjalan, sampailah di daerah Topoyo, kami mampir di rumah makan untuk makan malam/berbuka puasa, meski sebenarnya saya tidak sedang berpuasa. Begitu pula Bapak Kadis dan supir, karena beliau berdua adalah orang Bali. Jujur, saya sudah mengalami rasa mabuk perjalanan, meski masih bisa saya tahan. Menu khas sulawesi, ikan bakar dan sup, terasa hangat memasuki leher. Nikmat. Ditemani segelas es teh manis, sedikit menghalau rasa mabuk perjalanan tadi. Perasaan lebih nyaman. Perjalanan pun berlanjut.
1 jam sejak perjalanan dilanjutkan, mabuk perjalanan saya kembali muncul dan semakin kuat. Mobil tetap melaju dengan kecepatan kira-kira 90km/jam. Sekuat tenaga dan sambil berdoa, berharap agar saya tidak muntah. karena sesuatu seperti sudah sampai di leher saya. Karena sungkan, saya pun tetap menahan dan mencoba menutup mata untuk mengurangi rasa mual yang semakin hebat. Mencoba untuk pasrah dan terus berdoa dalam hati agar tetap kuat.
Tiba-tiba mobil berhenti, entah di daerah apa. Yang pasti suasana agak gelap seperti di tengah hutan. Spontan Sayapun ijin untuk turun mobil kepada Pak Kadis, saya pun turun. Seperti tak terbendung, semua isi perut saya keluar hingga tak tersisa. Terasa lega sekali. Beberapa saat kemudian bersamaan dengan Pak supir yang selesai menelpon seseorang, saya pun naik mobil. Pak Kadis pun bertanya, apakah saya mabuk. Dengan sedikit becanda, Saya bilang "iya Pak sedikit, kebetulan Pak Supir berhenti, saya pun mengambil kesempatan untuk keluar." Uniknya, Pak Kadis bilang, "itu bukan kebetulan, Pak supir berhenti karena ada yang menyuruh berhenti." Saya pun hanya senyum. Yang penting saya sudah lebih baik dan saya berterima kasih kepada Pak Supir.
Perjalanan berlanjut. Dan setelah 30 menit kami kembali singgah di Warung kopi. Saya memilih minum teh panas. Hmm terasa hangat dan melegakan. Kembali Pak Kadis membahas soal tadi. Beliau mengatakan bahwa mobil tadi berhenti bukan kebetulan. Dan biasanya, Pak Supir tidak akan berhenti tanpa diminta. Tapi dia tadi mendadak berhenti karena merasa ada yang menyuruh berhenti. Yang pasti bukan Pak Kadis ataupun Saya. Sejenak saya mencoba mengamati maksud ucapan Pak Kadis. Tadi saya masih belum paham. Tapi sekarang beliau seperti ingin menyampaikan pesan itu sejelas-jelasnya. Masih dengan sedikit bingung, beliau melanjutkan, bahwa mungkin saja yang 'menyuruh' berhenti itu 'sesuatu' yang bersama saya, yang 'menjaga' saya.
Saya pun terhenyak sesaat. Jujur, saya tidak memiliki indra ke-6, kemampuan supranatural atau kekuatan magic dan berhubungan dangan hal-hal mistis. Saya hanya bersandar penuh pada Yang Maka Kuasa. Pemikiran saya pun sangat sederhana. Setengah heran saya pun merasa takjub. Mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan kuasaNya. Dia menolong saya. Begitulah saya meyakininya. 'Sesuatu' atau 'seseorang' yang dirasakan/berbisik ke Pak supir untuk memintanya berhenti, mungkin saja malaikat atau apa, hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun yang pasti saya merasa bersyukur. Sungguh saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Bahkan menafsirkan semua itu pun tak bisa hehe..
Jawaban saya yang sederhana dan menyiratkan ketidaktahuan yang jujur itu, membuat Pak Kadis tersenyum penuh makna. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga kami pulang, semua perjalanan lancar. Dan yang saya catat, meski seorang pimpinan, beliau, Pak Kadis itu sangat baik dan ramah. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada beliau saat sampai di rumah kembali, begitu pula kepada Pak Supir. Perjalanan yang menarik, mengesankan dan menyenangkan. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya pribadi.
Dengan sedikit tergesa dan hati berdoa semoga lancar, saya pun mencoba maksimal untuk melaksanakan amanah ini. Ternyata, yang jadi kejutan kedua, saya pun diarahkan untuk berangkat bersama dengan perwakilan dari kantor pariwisata, yang notabene adalah kepala dinas. Padahal rencana awal saya sempat terfikir untuk naik Bus umum DAMRI. Itung-itung pengalaman pertama naik bis umum ke arah Barat kota. Setelah janjian via telpon, disepakati saya dijemput di rumah, tepatnya di kos-kosan saya. Hmm, pimpinan ini sangat baik dan low profile. Mengingat saya hanyalah seorang staf di kantor hehe...but anyway thanks a lot.
Pukul 02.30 kami mulai perjalanan. Dari catatan jarak yang harus ditempuh sekitar 350 km, seperti Malang-Banyuwangi. Bedanya, jalan ke arah Mamuju sangat berkelok-kelok. Semoga saya tidak mabuk perjalanan hehe.. Setelah 2,5 jam berjalan, sampailah di daerah Topoyo, kami mampir di rumah makan untuk makan malam/berbuka puasa, meski sebenarnya saya tidak sedang berpuasa. Begitu pula Bapak Kadis dan supir, karena beliau berdua adalah orang Bali. Jujur, saya sudah mengalami rasa mabuk perjalanan, meski masih bisa saya tahan. Menu khas sulawesi, ikan bakar dan sup, terasa hangat memasuki leher. Nikmat. Ditemani segelas es teh manis, sedikit menghalau rasa mabuk perjalanan tadi. Perasaan lebih nyaman. Perjalanan pun berlanjut.
1 jam sejak perjalanan dilanjutkan, mabuk perjalanan saya kembali muncul dan semakin kuat. Mobil tetap melaju dengan kecepatan kira-kira 90km/jam. Sekuat tenaga dan sambil berdoa, berharap agar saya tidak muntah. karena sesuatu seperti sudah sampai di leher saya. Karena sungkan, saya pun tetap menahan dan mencoba menutup mata untuk mengurangi rasa mual yang semakin hebat. Mencoba untuk pasrah dan terus berdoa dalam hati agar tetap kuat.
Tiba-tiba mobil berhenti, entah di daerah apa. Yang pasti suasana agak gelap seperti di tengah hutan. Spontan Sayapun ijin untuk turun mobil kepada Pak Kadis, saya pun turun. Seperti tak terbendung, semua isi perut saya keluar hingga tak tersisa. Terasa lega sekali. Beberapa saat kemudian bersamaan dengan Pak supir yang selesai menelpon seseorang, saya pun naik mobil. Pak Kadis pun bertanya, apakah saya mabuk. Dengan sedikit becanda, Saya bilang "iya Pak sedikit, kebetulan Pak Supir berhenti, saya pun mengambil kesempatan untuk keluar." Uniknya, Pak Kadis bilang, "itu bukan kebetulan, Pak supir berhenti karena ada yang menyuruh berhenti." Saya pun hanya senyum. Yang penting saya sudah lebih baik dan saya berterima kasih kepada Pak Supir.
Perjalanan berlanjut. Dan setelah 30 menit kami kembali singgah di Warung kopi. Saya memilih minum teh panas. Hmm terasa hangat dan melegakan. Kembali Pak Kadis membahas soal tadi. Beliau mengatakan bahwa mobil tadi berhenti bukan kebetulan. Dan biasanya, Pak Supir tidak akan berhenti tanpa diminta. Tapi dia tadi mendadak berhenti karena merasa ada yang menyuruh berhenti. Yang pasti bukan Pak Kadis ataupun Saya. Sejenak saya mencoba mengamati maksud ucapan Pak Kadis. Tadi saya masih belum paham. Tapi sekarang beliau seperti ingin menyampaikan pesan itu sejelas-jelasnya. Masih dengan sedikit bingung, beliau melanjutkan, bahwa mungkin saja yang 'menyuruh' berhenti itu 'sesuatu' yang bersama saya, yang 'menjaga' saya.
Saya pun terhenyak sesaat. Jujur, saya tidak memiliki indra ke-6, kemampuan supranatural atau kekuatan magic dan berhubungan dangan hal-hal mistis. Saya hanya bersandar penuh pada Yang Maka Kuasa. Pemikiran saya pun sangat sederhana. Setengah heran saya pun merasa takjub. Mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan kuasaNya. Dia menolong saya. Begitulah saya meyakininya. 'Sesuatu' atau 'seseorang' yang dirasakan/berbisik ke Pak supir untuk memintanya berhenti, mungkin saja malaikat atau apa, hanya Allah Yang Maha Tahu. Namun yang pasti saya merasa bersyukur. Sungguh saya ini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Bahkan menafsirkan semua itu pun tak bisa hehe..
Jawaban saya yang sederhana dan menyiratkan ketidaktahuan yang jujur itu, membuat Pak Kadis tersenyum penuh makna. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan. Hingga kami pulang, semua perjalanan lancar. Dan yang saya catat, meski seorang pimpinan, beliau, Pak Kadis itu sangat baik dan ramah. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada beliau saat sampai di rumah kembali, begitu pula kepada Pak Supir. Perjalanan yang menarik, mengesankan dan menyenangkan. Sebuah pengalaman yang luar biasa bagi saya pribadi.
Komentar
Posting Komentar